Malam belum berlalu lama ketika kunaiki kereta yang mengantarkanku menuju ibu kota negeri ini, dalam sebuah perjalanan menjemput mimpi yang amat kurindukan. Aku menaiki gerbong ketiga dalam kereta api bisnis ini, dibaris temapt dudukku tidak begitu banyak penumpang, didepanku ada seorang ibu paruh baya yang juga turut berangkat bersama dari stasiun ternama di kota semarang ini. Ibu tadi kemudian menyapaku dan mengawali pembicaraan,
“ mas mau ke jakarta ?” tanya ibu tadi
“iya bu, ibu sendiri mau ke jakarta juga? Balasku
“iya, ibu memang tinggal di jakarta , kemarin baru berkunjung ke tempat saudara di semarang sekalian bertemu anak yang memang belajar disemarang,”
“ oh begitu ya bu”. Cukup singkat jawabku, lantas aku terdiam sebentar
“ adik anak masjid ya?” ibu tadi melempar pertanyaan padaku
“ maksudnya bu?”
“ adik dulu aktivis masjid? Soalnya kalau saya lihat dari penampilan adik seperti aktivis islam atau anak rohis kebanyakan,”
Aku menjawab dengan anggukan dan senyum kecil. “ iya bu, ibu tahu aja,” jawabku sambil tersenyum simpul.
“Iyalah lha penampilan adik kan mudah dikenali lagian anak ibu juga sejak sma juga jadi aktivis rohis, ibu nggak melarang kok, sebab dia kan jadi lebih terselamatkan dari pergaulan negatif anak muda zaman sekarang dan alhamdulillah sampai sekarang masih bertahan, adik masih kuliah?
“ enggak bu, saya sudah lulus kuliah setahun yang lalu, oh ya bu dari tadi saya belum memperkenalkan nama, saya Ahmad Rizqi ,” kataku sambil menyerahkan kartu namaku, siapa tahu bisa untuk koneksi nanti ke depan,
“ oh makasih ya dik” kata ibu itu menerima pemberianku.
“ ini buat adik” ibu itu memberikan sebuah bingkisan kecil , berisikan sebuah pulpen mewah, dihiasi replika bunga melati berjumlah lima didalam bingkisan tadi,
“ nggak usah repot-repot bu” aku mencoba menolak
“ ambil aja, disitu juga ada alamat tempat kerja ibu dijakarta kalau suatu saat adik sempat, coba sekali-kali main, itu oleh-oleh yang dibuatkan oleh anak ibu, dia memang punya usaha membuat suvenir bersama teman-teman kuliahnya, maunya dia sih suruh ngasihkan rekanan kerja ibu dijakarta, tapi buat adik satu nggak papa kok ibu masih punya banyak, lagian ibu yakin adik bukan orang jahat jadi ambil saja sebagai hadiah”
“ makasih ya bu” aku akhirnya menerima pemberian dari ibu tadi, baik juga ibu ini pikirku
Kereta terus melaju menyusuri malam dan akhirnya berhenti disalah satu stasiun, naiklah beberapa penumpang lain, dan dibarisku yang semula baru berisi dua orang sekarang bertambah dua orang, seorang bapak dengan mengenakan baju batik dari gurat wajahnya nampak berusia lima puluhan yang duduk disampingku dan seorang ibu muda yang mengenakan jilbab ungu dengan bros berbentuk aneh walaupun sebenarnya aku merasa cukup familiar dengan bentuknya,yang duduk bersebelahan dengan ibu tadi.Kelihatanya masih berusia tiga puluhan
“Mau kejakarta pak?” tanyaku basa-basi membuka pembicaraan dengan bapak yang disebelahku.
Bapak tadi mengangguk dan membalas dengan pertanyaan serupa. Kamipun kemudian berbincang tentang berbagai hal lebih akrab, hingga kepada sebuah pertanyaan,
“ adik sudah lulus kuliah ya ? ke jakarta ada keperluan apa?