Tampilkan postingan dengan label cerpen islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen islami. Tampilkan semua postingan

Rabu, 31 Oktober 2012

SERIAL ANDROMEDA 3: Langit Lazuardi menjadi saksi


Episode sebelumnya:
Andra bersilaturahim ke tempat Ustadz fahmi dan bermaksud untuk pamitan meninggalkan Semarang karena diterima bekerja di Bandung, dari pertemuan sore itulah Andra jadi tahu bahwa Ustadz Fahmi masih berniat menawarkan keponakanya untuk menikah dengan Andra, Andra terkejut begitu tahu bahwa keponakan ustadz fahmi itu ternyata adalah Meyda.

Hari ini pertengahan bulan Mei, musim harusnya sudah berganti menjadi musim kemarau, namun kekacauan iklim telah menyebabkan hari-hari ini masih diguyur hujan deras, hal ini tentu agak tidak disukai oleh kalangan mahasiswa Undip yang merencanakan rihlah ke Lereng Gunung Merapi-Merbabu ini, dikemas dengan nama Kemah Ukhuwah, mereka menyelenggarakan even semacam kemah bakti di masyarakat,niatnya sekaligus observasi lapangan pasca erupsi merapi. Namun ceritanya menjadi berubah, sejak mendarat di posko Selo tadi siang, hujan deras terus mengguyur, apalagi dipadukan dengan kondisi pegunungan yang dingin lengkap sudah penderitaan mereka, gagal total semua planning mereka dihari pertama. Sekitar 30an orang mengikuti Kemah Ukhuwah ini, ikhwan dan akhwat, even ini dikoordinasikan oleh salah satu elemen mahasiswa ekstra terbesar di  Semarang. Mereka sementara ditampung di rumah pak lurah setempat, tepatnya di salah satu jalur pendakian Gunung Merbabu. Meyda bersama Yulisa termasuk dalam salah satu panitia even ini.
“Yul, dingin banget ya disini? Mana hujan terus dari tadi” gerutu Meyda sambil mengigil kedinginan.
“ Namanya juga Gunung, yo mesti dingin kayak gini, kalau mau panas ya di Semarang sana!” timpal Yulisa dengan muka dingin.
“Yeee..maksudnya ? dasar ndak ngerasaian susahnya orang kalau nggak cocok ma cuaca esktrem kayak gini?” balas Meyda
“ Emang Semarang nggak kalah ekstrem, panasnya bisa bikin kanker kulit kaliii” kata Yulisa nggak mau kalah.
“ Ah! Ada-ada saja kau ini” balas Meyda, sambil memastikan persediaan obat pribadinya yang disimpan dalam Tas Ransel miliknya. Dia berpikir pasti ayahnya bakal marah dan nggak mengizinkan, kalau ikutan acara di Gunung kayak Gini, Meyda memang agak ngedrop kalau sudah bertemu dengan cuaca kelewat dingin kayak gini, dulu aja pas masih SMP saat liburan di Puncak Bogor, Dia sempat pingsan karena nggak kuat, namun kali ini dengan pertimbangan even terakhir yang diikutinya di Semarang sekaligus perpisahan dengan teman-teman dekatnya ia memaksa untuk berangkat juga. Setelah wisuda bulan lalu, Orang Tua Meyda memang meminta dia segera pulang ke Jakarta, praktis dia nggak bisa lama-lama lagi disemarang.
Bintang, ketua panitia dan penanggung jawab utama acara ini tampak memasuki ruangan utama rumah tempat sebagian peserta Transit.
“Kawan-kawan sepertinya kita tidak bisa menjalankan rencana kita untuk menuju ke lokasi Kemah Ukhuwah Sore ini, paling cepat jika hujan reda, habis Isya kita baru bisa berangkat kesana” katanya tegas memberitahu semua peserta.
“Memang berapa Jauh Mas, jarak menuju lokasi?” tanya salah seorang peserta.
“Sekitar setengah kilo dari sini, medan menuju kesana jalannya naik terus jadi perlu dipastikan benar-benar save, lagipula transport kesana juga baru bisa siap habis maghrib jika cuaca terus kayak gini, kita tadi nyewa pick up punya warga sini, mending kalian semua beristirahat dulu sambil menunggu hujan reda! Ok!” jawab Bintang.
“Siap pak Bos!” Yulisa tiba-tiba menyahut.
Bintang hanya tersenyum kecil, sambil melangkah keluar ia menekan nomer HP miliknya, Ia menghubungi Saiful yang sudah ada di lokasi kemah ukhuwah, ia meminta bantuan Saiful untuk menyiapkan beberapa hal disana.
“Assalamu’alaikum, gimana bro persiapan disana?” Bintang mengawali pembicaraan.
Disini dah beres, tadi saya sudah komunikasi dengan Pak RT disini, sudah disiapkan tiga rumah untuk transit malam ini, dua untuk peserta dan satu untuk panitia, nanti panitia akhwat gabung aja ma peserta akhwat, besok pagi kalian baru bisa menuju lokasi tempat kalian mau mendirikan tenda dan Sosialisasi program ke warga” jawab Saiful diujung telepon
“Bagus-bagus, teman-teman disini juga sedang istirahat, habis Isya nanti baru bisa berangkat kesana, perjalanan paling lima belas menit, Mas Rudi dah disana kan?
Udah, ni lagi ngopi ditempat Pak RT, Oh Ya, besok saya mesti ke puncak gunung Merbabu, jadi ndak bisa bantu-bantu lebih banyak, kalian dah siap kan? Karena sinyal agak susah disini, tadi sudah saya pinjamkan Handy Talki pada kawanku yang Dinas di Tim SAR Boyolali, gunakan aja untuk komunikasi panitia, satu saya bawa ke puncak, kalau ada apa-apa, tinggal kontak aja
“Ok Bro, syukron bantuannya, afwan jika banyak merepotkan”
“Ndak papa kok, dah ya, saya mau ngopi ma ngobrol lagi ma pak RT,Assalamu’alaikum”
Setelah menutup telepon, Bintang lalu bergabung dengan panitia yang lain, mereka asyik mengobrolkan banyak hal tentang kondisi di lereng Merbabu ini.
*****************************************************
Malamnya rombongan itupun menuju lokasi kemah ukhuwah dengan naik tiga mobil pick up. Sambutan warga pun cukup ramah atas kedatangan mereka. Keesokan paginya mereka pun mendirikan tenda di lapangan SD didesa terebut, dan mulai mensosialisasikan beberapa program pada warga sekitar, sekaligus melakukan observasi pada kondisi masyarakat sekitar.

SERIAL ANDROMEDA 4: JIKA IKHLAS ITU ADALAH PERMATA




Episode sebelumnya;
Meyda,Yulisa, Rudi dan Bintang bersama 30 mahasiswa lain tengah terlibat dalam kemah ukhuwah dilereng gunung merbabu. Karena cuaca buruk, Meyda yang kondisi fisiknya tengah lemah, mendadak jatuh sakit, dan ketika sedang outbound tiba-tiba pingsan, Saiful yang tengah berada di puncak merbabu langsung dikontak untuk turun, untuk membantu membawa Meyda ke Rumah sakit dengan bantuan tim SAR Boyolali, setelah didiagnosis ternyata Meyda mengalami pendarahan di otaknya dan harus dirujuk ke Semarang.

Ruang Paviliun Garuda Rumah Sakit Kariadi lantai 2 tidak begitu Ramai, ketika Ustadz Fahmi tiba di ruangan VVIP 1 tempat Meyda dirawat. Tim Dokter disana sudah melakukan tindakan penanganan awal pada Meyda setelah mendapatkan izin dari Ustadz Fahmi selaku keluarga terdekat Meyda yang berada diSemarang. Di sana terdapat  Yulisa dan Tari yang senantiasa menemani sejak dari Selo sampai ke tempat ini. Begitu mendapat kabar dari Saiful yang masih berada di Boyolali, Ustadz Fahmi langsung mengontak Yulisa untuk memastikan Meyda mendapat perawatan terbaik sesampainya di Semarang. Ia juga sudah mengontak orang tua Meyda, terkait kondisi Meyda, dan mereka berencana akan tiba di Semarang sore ini.
“Gimana kondisi Meyda sekarang?” tanya Ustadz Fahmi pada Yulisa.
“ Walaupun belum siuman,Sekarang sudah agak lebih baik, Dokter sudah memberikan penanganan awal, katanya kita lihat dulu perkembanganya setelah tiga jam, baru nanti akan diputuskan tindakan selanjutnya” Yulisa menjelaskan.
“Hemm, begitu ya? Meyda memang keras kepala, ketika dia bilang mau berangkat Kemah Ukhuwah,aku sempat melarangnya namun ia bersikeras berangkat juga, katanya mau pamitan sekalian ma teman-teman, soalnya lusa rencananya dia sudah mesti balik ke Jakarta, malah jadinya sekarang seperti ini” Wajah Ustadz Fahmi nampak lesu.
“Afwan ustadz, apakah selama ini Meyda memang menyembunyikan penyakitnya dari kami semua? Tadi saya sempat mendengar pembicaraan dari para Dokter, kata mereka.....”
“Ya betul,”ustadz Fahmi memotong,”Meyda memang tidak mau menceritakan penyakitnya ini pada teman-temannya, hanya keluarga yang tahu, Ia mengidap Kanker Otak, gejala itu diketahui ketika dia lulus SMA, sampai sekarang dia masih rutin melakukan perawatan, namun ketika kontrol terakhir di Jakarta, Dokter meminta dilakukan operasi segera, agar tidak semakin parah, makanya dia diminta segera balik oleh orang tuanya agar lebih bisa diawasi dari dekat terkait perkembangan penyakitnya, aku harap sekarang belum terlambat..”Ustadz Fahmi mendesah pelan
“Astagfirullah Meyda!kenapa selama ini engkau Cuma diam saja”Kata Yulisa pelan sambil menatap Meyda yang terbaring diatas bed. Suasana tampak hening
Tak lama berselang Saiful, Rudi dan Bintang memasuki ruangan, setelah sebelumnya mengetuk pintu dan mengucap salam.
“Afwan Ustadz, tadi kami menyelesaikan urusan kemah ukhuwah dulu, baru bisa kesini sekarang” Saiful mengawali pembicaraan.
“Ya.saya paham kita ngobrol diluar aja..” ajak Ustadz Fahmi.
Mereka bertiga mengikuti ajakan ustadz Fahmi untuk keluar.Lantas Ustadz Fahmi menceritakan semua yang dialami Meyda pada mereka, mulai dari penyakitnya sampai keinginan orang tuanya yang meminta Meyda untuk dirawat Jakarta.
“saya ndak habis pikir, apa yang membuat Meyda bersikeras untuk tetap berangkat ke Gunung Merbabu padahal kondisi disana pastinya akan menguras staminanya..tapi yang terjadi malah lebih dari itu...”kata Ustadz Fahmi lantas terdiam.
Rudi mendesah pelan,”seandainya saya tahu dari awal meyda punya penyakit kanker otak pasti sudah kularang dia mengikuti kegiatan ini, tapi di malah memilih menyembunyikan semuanya, sialll!
“Istifghfar Rud, Muslim sejati itu tidak akan berkata seandainya begini atau seandainya begitu, itu pekerjaan syaitan, semua sudah terjadi, kita lihat saja perkembanganya, semoga kondisi Meyda lebih baik nanti” kata Ustadz Fahmi mencoba menenangkan Rudi yang nampak merasa bersalah.
“Afwan ustadz”kata Rudi kemudian.
“Orang tua  Meyda kapan kesini Tadz?” tanya Saiful
“Insyaallah sore ini mereka sampai disini, kau kenapa bengong Tang!” perhatian Ustadz Fahmi teralih pada bintang yang terduduk lesu dengan pandangan kosong.
“Saya tidak bisa menjalankan tugas dengan baik dalam kemah ukhuwah ini, wajar jika saya dan Rudi mungkin yang merasa paling bersalah atas kejadian yang menimpa meyda, semua karena keteledoran kami..” jawab bintang
“Hush jangan berkata seperti itu, sudahlah kita berdoa saja semoga meyda lekas baikan” kembali ustadz Fahmi menyampaikan pesan untuk menenangkan mereka bertiga.
Mereka semua terdiam sejenak, sibuk dalam dzikir munajat memohon doa pada Rabbi Izzati, Yulisa yang muncul dari balik pintu kamar mengagetkan mereka,
“Meyda mulai siuman, Tari sedang ngontak perawat untuk kemari”
“beneran? Saya masuk dulu! Kalian tunggu disini aja”Kata ustadz fahmi memberikan instruksi, Saiful, Rudi dan Bintang hanya mengangguk pelan.
Tak lama setelah Ustadz Fahmi melihat kondisi Meyda, datang perawat dan seorang dokter ahli ke dalam ruangan itu.
“assalamu’alaikum ustadz, subhanallah bertemu disini, pasien ini keluarga Ustadz ya, saya nggak ngira sbelumnya, “kata dokter itu akrab.
“Iya Prof! Dia keponakan saya, silahkan dicek dulu kondisinya” kata ustadz fahmi
Dokter itu dan perawat itu kemudian mencek kondisi Meyda beserta tanda-tanda vitalnya.
“cukup bagus untuk kondisinya bisa sadar dalam waktu cepat, biasanya butuh waktu agak lama untuk pasien lain dengan diagnosis yang sama, masih terasa sakit dikepala ?” Dokter itu menanyai Meyda.
Meyda yang belum pulih benar,hanya mengangguk pelan, sambil menahan nyeri yang dirasakannya.
“Suster coba lihat lagi hasil CT scan pasien ini”dokter itu meminta pada perawat disebelahnya.
Dokter itu tampak serius mengamati hasil CT scan ditanganya sambil sesekali mengamati hasil rekam medis kondisi Meyda.
“Suster tolong pastikan kondisi oksigen dari tabung lancar, coba cek lagi kondisi tekanan darah pasien, pastikan semua kondisi stabil, tambahkan juga sedikit anestesi untuk mengurangi rasa sakitnya”dokter itu terus memberi intruksi.
“Ustadz, ada yang perlu saya bicarakan diluar, mari!”ajak dokter itu
Ustadz fahmi mengikuti saja dibelakang dokter itu.
“Ustadz kapan orang tua pasien ini bisa dihadirkan disini? Kami butuh kepastian untuk penanganan selanjutnya dan itu mesti dari pertimbangan orang tua, keputusan ada dimereka” tanya dokter itu.
“Insyaallah sore ini mereka tiba, emang apa tindakan selanjutnya Prof?
“Kita harus melakukan operasi segera,stadium sekarang akan semakin parah jika tidak segera dioperasi, selanjutnya bisa dilanjutkan dengan terapi kanker pada umumnya, bagi kami sekarang nyawa pasien lebih pentiing ! dalam kurang dari 24 jam kami harus mendapat kepastian, masalah biaya yang cukup besar Ustadz ndak usah terlalu memikirkan, kami bisa mengkomunikasikan dengan pihak rumah sakit, yang kami perlukan adalah kepastian kesepakatan dari keluarga, bagaimana?”
“Saya belum bisa mengambil keputusan, kita tunggu saja orang tua Meyda, Prof”
“Baiklah! sementara kondisi pasien ini lebih baik, sudah bisa diajak berbicara tapi biarkan dia beristirahat lebih banyak kalau bisa” Dokter itu masih menjelaskan.
Ustadz Fahmi terdiam
“Ustadz, jika orang tua pasien sudah datang, kabari saya segera, saya bisa menyediakan tim dokter terbaik, mereka relasi saya dan beberapa kenal baik dengan anda juga tentunya, termasuk salah satunya adalah Prof Zaenal, spesialis bedah syaraf yang ada rumah sakit ini, dan yang lain tentunya, OK, saya tunggu perkembangannya Tadz”kata Dokter itu sambil menepuk lengan Ustadz Fahmi,”Saya tinggal dulu ke ruangan!” dokter itu bergegas pergi setelah melempar senyum kecil.
Rudi, Saiful dan Bintang yang mendengar obrolan tadi tampak tegang, mereka kenal siapa Dokter yang berbicara tadi, namanya Prof.dr.Syarif Hidayat,PhD, dokter jebolan Oxford University ini memiliki spesialisasi Neurologi, pernah tercatat sebagai Asisten Direktur Program Pascasarjana Undip, dokter tadi terkenal cukup hanif karena turut aktif dalam Badan Amalan Islam di RS Kariadi, itulah yang menyebabkan beliau kenal dekat dengan ustadz Fahmi,karena sering mengisi kajian di Masjid Asyifa RS Kariadi , ketika Prof.Syarif yang berbicara dan turun langsung sudah bisa dipastikan kondisi pasien memang kritis dan membutuhkan prioritas perawatan, Prof.Syarif sempat dicalonkan untuk menjadi Kepala Rumah Sakit Kariadi namun memilih mundur, karena ingin fokus pada pembinaan BAI disana, pilihan yang langka dalam kultur FK Undip.
“Ustadz apakah kondisi Meyda benar-benar kritis?” Saiful tiba-tiba bertanya
“Entahlah..”Ustadz Fahmi tak bisa berkomentar.
Sayup-sayup terdengar suara adzan Asar dari masjid,
“Kita sholat asar dulu, semoga Allah memberikan jalan terbaik” ajak ustadz Fahmi
Mereka semua lalu bergegas menuju masjid Asyifa untuk menjalankan ibadah sholat asar.
***********************************
Ustadz Fahmi menghampiri Meyda yang terbaring lemas, pandangan Meyda tertuju pada jendela kamarnya,
“Om tahu apa yang sekarang meyda pikirkan?” gumam meyda
Ustadz Fahmi hanya menggeleng pelan,
“Meyda nggak tahu harus bilang apa, semua yang terjadi sekarang, akibat sikap keras kepala Meyda sendiri, kondisinya semakin parah, Meyda nggak tahu apakah masih bisa hidup lebih lama dengan kondisi semacam ini”kali ini air mata nampak menetes dari matanya
“Hush ngomong apa kau ini, sudahhh perbanyak istigfar dan berdoa,..jangan ngomong yang aneh-aneh ”
Tiba-tiba pintu kamar dibuka, Pak Abdullah dan Bu Istiqomah, Orang tua Meyda telah sampai didampingi Bu Zulaida istri Ustadz Fahmi, melihat Meyda Bu Isti langsung menghambur pada putri kesayanganya itu, dipeluknya putrinya sambil menangis terisak-isak. Ustadz Fahmi menghampiri Pak Abdullah dan menceritakan semua yang terjadi dari kejadian di gunung merbabu itu sampai kabar dari Prof.Syarif tadi, Pak Abdullah langsung terduduk lemas dikursi ruangan itu, genggaman tanganya dipukulkanya pada meja yang ada disebelahnya sambil bergumam,”Meyda,meyda”
Suasana hening seketika, tak terkecuali Yulisa dan Tari yang sedari tadi berada di ruangan juga turut terdiam, walaupun mereka sudah mengirimkan informasi terkini Meyda pada teman-teman di kampus, mereka tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, kini mereka hanya menjadi penonton saja.
“Om Fahmi!”Meyda memanggil Ustadz Fahmi,” Om masih ingat tawaran pada Meyda dua bulan lalu?”
Ustadz Fahmi melangkah mendekat pada Meyda, “Iya Om Ingat, saat itu kau malah marah sama Om kan...? apaaa sekarang kau berubah pikiran” kata ustadz fahmi penuh selidik.
“tidak ada yang berubah, hanya....” meyda berkata pelan
“Meyda tidak bisa memastikan resiko dari penyakit yang sekarang meyda alami, meyda hanya ingin semua menjadi jelas...”
“Meyda ingin jadi permata yang sempurna, Meyda ikhlas atas ujian penyakit yang sekarang Meyda derita, termasuk resiko kedepan jika harus menjalani kemoterapi ataupun lebih buruk dari itu, Cuma satu hal yang mengganjal...”Meyda tak bisa melanjutkan kata-katanya, terdiam sejenak
“Sebagai satu-satunya anak-anak perempuan mama, Meyda sedih belum bisa membahagiakan mama,apalagi meyda anak sulung, sebellll,”Meyda mencoba untuk tertawa kecil yang dipaksakan.
“Ngomong apa kau mey, jangan negelantur ah”bu Istiqomah menimpali sambil membelai kepala putrinya itu.
“PA,MA, putuskan saja untuk operasi meyda disini  sekarang, daripada dibawa balik ke Jakarta, belum tentu sembuh malah tambah parah nanti” meyda merajuk manja
Mendengar permintaan Meyda, Pak Abdullah mengangguk sambil menoleh pada Ustadz Fahmi,”Baik mas, aku pastikan sekarang ke dokter syarif”
“Oh ya om, satu lagi...”kata Meyda, langkah Ustadz Fahmi tertahan karena ucapan Meyda,”Kenapa Mey?” tanya Ustadz Fahmi.
“Eh..ndak jadi deh”jawab Meyda.
Ustadz Fahmi tertawa kecil, “Aku usahakan dia ada disini sebelum kau dioperasi besok”
“Eh Om Fahmi ngomongin apa sih,...”kata Meyda sebelum mengalihkan pandanganya ke langit-langit kamar.
Melihat tingkah Meyda,Ustadz Fahmi hanya geleng-geleng,Bu Zulaida juga tersenyum kecil, sekeras apapun watak Meyda sekarang, dia tetaplah Meyda seperti dulu yang cengengesan dan manja. Sementara Yulisa dan Tari hanya bengong, bingung,”ngomongin apa sih mereka”kata mereka dalam hati
Ustadz Fahmi dan Pak  Abdullah segera membereskan administrasi untuk operasi, Prof.Syarif sudah menyepakati dengan timnya bahwa operasi akan dilaksanakan esok paginya jam 10. Setelah administrasi beres, Ustadz Fahmi menghampiri Saiful dan Rudi yang masih menunggu di lorong kamar, sementara Bintang Tadi izin balik karena ada janjian dengan menteenya di Kampus.
“Gimana Tadz, dah beres administrasinya?” tanya Rudi
“Sudah, tadi kami sudah berdiskusi dengan tim dokter, Alhamdulillah semua biaya ditanggung dari perusahaan BUMN Tempat Pak Abdullah Bekerja, masih tanggungan asuransi katanya, walaupun begitu, dokter tadi menyimpulkan operasi akan memakan waktu agak lama dan kondisinya fifty fifty,karena kedekatan kami, Meyda menjadi prioritas duluan“Ustadz Fahmi menjelaskan.
“Siapa aja Tim Dokternya Tadz?” giliran Saiful yang bertanya.
“Ini lihat aja”Kata ustadz Fahmi sambil menyerahkan berkas administrasi.
Saiful membaca berkas-berkas tadi, ia berdecak,Ketua Tim Dokter:Prof.Syukur, spesialis Onkologi, jebolan Amerika ,anggota:Prof.Syarif, ahli Neurologi, Prof.Zaenal spesialis Bedah syaraf, satu-satunya dokter bedah syaraf di Kariadi , Prof. Mulyadi, sebagai Internis mantan Pembantu Rektor 1 Undip dan dr.Daniel Alexius,dokter muda jebolan Yale University.
“Mereka ini orang-orang hebat disini, dan mereka masih mengatakan fifty-fifty, Robbii”Saiful berdecak sekali lagi.
“Ane percaya mereka akan berbuat yang terbaik, apalagi ada Prof.Syarif dan Prof.Zaenal, kau tahu kan beliau dulu mantan ketua rohis undip di tahun 70-an, Prof.Syarif sendiri yang mengatur timnya tadi, kalau bukan karena kedekatan kami, sulit untuk mendapatkan tim dokter dengan orang-orang tadi ”
“iya ustadz reputasi mereka tidak diragukan lagi” jawab Saiful

Rabu, 14 Maret 2012

LOTUS,MAKARA DAN MELATI 1


Malam belum berlalu lama ketika kunaiki kereta yang mengantarkanku menuju ibu kota negeri ini, dalam sebuah perjalanan menjemput mimpi yang amat kurindukan. Aku menaiki gerbong ketiga dalam kereta api bisnis ini, dibaris temapt dudukku tidak begitu banyak penumpang, didepanku ada seorang ibu paruh baya yang juga turut berangkat bersama dari stasiun ternama di kota semarang ini. Ibu tadi kemudian menyapaku dan mengawali pembicaraan,
“ mas mau ke jakarta ?” tanya ibu tadi
“iya bu, ibu sendiri mau ke jakarta juga? Balasku
“iya, ibu memang tinggal di jakarta, kemarin baru berkunjung ke tempat saudara di semarang sekalian bertemu anak yang memang belajar disemarang,”
“ oh begitu ya bu”. Cukup singkat jawabku, lantas aku terdiam sebentar
“ adik anak masjid ya?” ibu tadi melempar pertanyaan padaku
“ maksudnya bu?”
“ adik dulu aktivis masjid? Soalnya kalau saya lihat dari penampilan adik seperti aktivis islam atau  anak rohis kebanyakan,”
Aku menjawab dengan anggukan dan senyum kecil. “ iya bu, ibu tahu aja,” jawabku sambil tersenyum simpul.
“Iyalah lha penampilan adik kan mudah dikenali lagian anak ibu juga sejak sma juga jadi aktivis rohis, ibu nggak melarang kok, sebab dia kan jadi lebih terselamatkan dari pergaulan negatif anak muda zaman sekarang dan alhamdulillah sampai sekarang masih bertahan, adik masih kuliah?
“ enggak bu, saya sudah lulus kuliah setahun yang lalu, oh ya bu dari tadi saya belum memperkenalkan nama, saya Ahmad Rizqi ,” kataku sambil menyerahkan kartu namaku, siapa tahu bisa untuk koneksi nanti ke depan,
“ oh makasih ya dik” kata ibu itu menerima pemberianku.
“ ini buat adik” ibu itu memberikan sebuah bingkisan kecil , berisikan sebuah pulpen mewah, dihiasi replika bunga melati berjumlah lima didalam bingkisan tadi,
“ nggak usah repot-repot bu” aku mencoba menolak
“ ambil aja, disitu juga ada alamat tempat kerja ibu dijakarta kalau suatu saat adik sempat, coba sekali-kali main, itu oleh-oleh yang dibuatkan oleh anak ibu, dia memang punya usaha membuat suvenir bersama teman-teman kuliahnya, maunya dia sih suruh ngasihkan rekanan kerja ibu dijakarta, tapi buat adik satu nggak papa kok ibu masih punya banyak, lagian ibu yakin adik bukan orang jahat jadi ambil saja sebagai hadiah”
“ makasih ya bu” aku akhirnya menerima pemberian dari ibu tadi, baik juga ibu ini pikirku
Kereta terus melaju menyusuri malam dan akhirnya berhenti disalah satu stasiun, naiklah beberapa penumpang lain, dan dibarisku yang semula baru berisi dua orang sekarang bertambah dua orang, seorang bapak dengan mengenakan baju batik dari gurat wajahnya nampak berusia lima puluhan yang duduk disampingku dan seorang ibu muda yang mengenakan jilbab ungu dengan bros berbentuk aneh walaupun sebenarnya aku merasa cukup familiar dengan bentuknya,yang duduk bersebelahan dengan ibu tadi.Kelihatanya masih berusia tiga puluhan
“Mau kejakarta pak?” tanyaku basa-basi membuka pembicaraan dengan bapak yang disebelahku.
Bapak tadi mengangguk dan membalas dengan pertanyaan serupa. Kamipun kemudian berbincang tentang berbagai hal lebih akrab, hingga kepada sebuah pertanyaan,
“ adik sudah lulus kuliah ya ? ke jakarta ada keperluan apa?

Damai yang kunanti( potongan surat dari buku road to heaven)

".....terlalu banyak kisah yang mesti ditulis untuk kemudian menjadijkan kita terhenyak dan sadar bahwa kita tak memiliki kekuatan apa apa untuk sekedar bicara kata. disini tak ada yang bisa kami harapkan selain sekedar merasakan apa itu damai, menunaikan ibadah dengan tenang tanpa dihantui kecemasan.
Adikku mungkin engkau juga ayah dan ibu masih bertanya-tanya kenapa aku mesri pergi jauh meninggalkan rumah, meninggalkan semua cita dan juga tawa canda bersama keluarga. Sungguh adikku jika engkau besar nanti engkau pasti memahami jalan pikiran kakakmu ini. Kini kakakmu ini menyadari masih banyak mimpi-mimpi yang belum terwujud,naik impian kakak atau impianmu sendiri faris, bukankah engkau dulu bilang besok kalau sudah gede pingin jadi insinyur, ah masih teringat jelas dikepalaku faris, kau begitu ngeyel ketika kubilang: sekarang gelar insinyur mah dah ganti nama jadi sarjana teknik, ris.
sudahlah, kakak berharap kamu tetap rajin belajar moga tetap jadi juara kelas dan tetap terus sekolah ris, kasihan anak-anak disini, belum jelas kapan konflik ini akan berakhir,sekolah mereka dibakar,dicekam ketakutan dan trauma karena kehilangan keluarga mereka, ya ris. disini banyak anak-anak yang kehilangan orang tuanya....ah kamu masih terlalu kecil untuk merasakan dan mengerti hal seperti ini.
Tapi kakak masih merasa kedamaian itu pasti datang, damai bersama para pejuang islam ris, tahu nggak kakak yakin jalan ini adalah jalan yang lurus , jalan mengabdi pada Allah, kalau nggak di dunia, semoga bisa kutemukan damai disyurga nanti, 
bagi kakakmu ini yang penting tetap istiqomah meniti jalan ini karena kakak yakin ini adalah salah satu jalan ke syurga, kalau guru bahasa kakak dulu nyebutnya "road to heaven", apalah artinya itu ris,yang penting kakak ikhlas menjalani ini semua.
doakan ya ris,kakakmu ini bisa menjemput cita-cita kakak ya, menjemput damai disyurga.


Nitip salam ris buat bapak ibu, juga adikmu rahma dan tika, jaga mereka ya, ingat ya kamu itu anak laki-laki mesti tumbuh kuat.jangan cengeng,moga kesampaian cita-citamu jadi insinyur nanti,kakak belum bisa ngasih kepastian kapan pulang, disini masih rusuh,ambon masih membara dalam konflik ris, tapi kakakmu ini nggak patah semangat kok, kamu juga janga patah semangat ya.tetap rajin sembahyang 
Wassalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh


Ambon,12 Agustus 2000
Salam kangen dari kakakmu 
Khattab Abdillah


******
Faris masih tertunduk sambil memegang sepucuk surat yang diterimanya dari kakaknya ketika ia masih berumur 10 tahun, sedih ketika ia membaca kembali surat itu,surat terakhir yang diterimanya dari kakaknya,karena dua bulan setelah menerima surat itu,ia mendapat kabar kakaknya telah meninggal dunia,
" Mas, semoga engkau benar-benar menjemput syahid sebagaimana yang kau impikan, menemukan damai di syurga Allah yang abadi.amin" ucap faris lirih.
"Mas adikmu ini berusaha memenuhi janji,setelah bapak meninggal, aku berusaha menjaga tika dan rahma agar tetap bisa sekolah, biarlah kuliahku agak kacau mas, yang penting adik-adik bisa bahagia,bisa memenuhi cita-cita mereka" ucapan lirih itu masih terus terucap dari bibir faris, entah ditujukan pada siapa.
" Kau tahu mas, Tika sekarang dah jadi perawat dah bekerja, rahma juga dah tamat SMK kini ia kerja di perusahaan garmen, Ibu juga masih rajin ke pasar" tak terasa butir air mata meleleh membasahi pipi faris
" Ah kau benar mas,hari ini aku akan menjemput mimpiku, sarjana teknik sipil , nggak ada gelar insinyur di depan namaku, tapi sama sajakan? sarjana teknik, walaupun agak lama juga lulusnya" faris mencoba tersenyum menghibur diri, tapi tetap getir terasa. Faris mengalihkan pandangan kelangit-langit kamarnya.
" Semoga rindu dan damai yang kita rindukan bisa tercapai mas, aku jujur baru mudeng kenapa mas dulu pergi ke meninggalkan rumah berangkat ke ambon" dipejamkan mata faris,bercucuran air matanya,terlintas dalam pikiranya bayangna masa kecil bersama kakaknya.
Hei faris yang gagah dan garang itu ternyata bisa menangis juga,padahal ketika bentrok dengan aparat dulu,apalagi ketika ditahan dan mendapat penyiksaan,tak setetes air mata pun mengalir.Kini dihadapan sepucuk surat ia nampak begitu melankolis, sungguh pribadi yang aneh.atau banyak manusia lain yang seperti itu. 
Faris tergugah, membuka matanya ketika suara adzan terdengar dari masjid di depan kosnya. Dilipatnya surat itu hendak dimasukkan kedalam amplop semula,di dalam amplop itu terdapat dua foto, satu adalah foto yang dikirimkan kakaknya ketika berada di mabon, foto kakaknya bersama teman-temannya dan juga beberapa anak kecil ambon dengan latar belakang masjid yang telah dibakar,satu lagi adalah foto keluarga mereka utuh dari Mas khattab sampai si bungsu rahma dan bapak ibunya.Miris hati faris.
" Mas khattab dulu jalanmu memang pergi jihad ke ambon mas, kini aku menempuh jalanku sendiri mas,sebagai aktivis dakwah, jadi dai,

Senin, 12 Maret 2012

SERIAL ANDROMEDA 2: Aku hanya ingin mencintaimu dengan sederhana !



         
Episode sebelumnya :
Andra dan saiful tengah terlibat obrolan menjelang laporan pertanggungjawaban BEM, sementara itu di tempat Lain, Meyda lebih asyik mengikuti kegiatan Baksosdibandingkan mnghadiri LPJ tersebut, telepon dari teman dekatnay Yulisa juga tak menjadikanya bersemangat, baginya kekesalan pada Andra belum hilang,apalagi jika kadang mengingat sikap arogan Andra.
Sore ini aku termenung diruang depan rumah ustadz fahmi, salah satu guru ngajiku, kali ini aku memang ada janjian dengan beliau untuk membicarakan beberapa hal, salah satunya aku ingin berpamitan  dengan beliau, sesuai dengan rencanaku setelah turun jabatan dari ketua BEM Universitas, aku berencana untuk fokus menyelesaikan skripsiku sambil bekerja, kebetulan aku diterima bekerja di perusahaan konsultan pertambangan di Jawa Barat sehingga seluruh aktivitasku akan lebih banyak terkuras disana dibandingkan di Semarang, paling sesekali saja aku berada disemarang. Tapi ternyata hari ini ketika aku datang ke rumah ustadz fahmi beliau belum balik ngajar, jadilah aku menunggu terlebih dahulu.
“assalamu’alaikum !” suara khas ustadz fahmi terdengar dari luar pintu masuk.
“wa’alaikum salam !” aku menjawab salam beliau.
Tak berapa lama kemudian muncul dari ruang dalam istri beliau yang datang menyambut lalu membawakan tas kerja ustadz fahmi.
“Eh Andra dah datang tho? Dah lama nunggu ?” Tanya ustadz Fahmi
“ belum kok , paling sekitar 15 menit, Tadz” jawabku singkat.
“Afwan ya ente mesti nunggu dulu, sebentar ane ganti pakaian dulu ke dalam”
“Ndak papa ustadz, tafadhol”
Sambil menunggu ustadz fahmi kembali, ku edarkan pandanganku ke sekeliling ruang tamu, ruangan berukuran 5 x 3 meter ini dihiasi dengan lukisan bergaya natural di salah satu dindingnya, lengkap pula dengan Pot bunga di pojok ruangan. Kombinasi yang harmonis cat tembok hijau muda, ditambah dengan meja kecil dengan vas bunga diatasnya, berpadu dengan sofa warna hijau benar-benar menjadikan suasana teduh dalam ruangan ini.
“Gimana Ndra? Jadinya ente mau berangkat ke Bandung kapan ? “ustadz Fahmi muncul dari ruang dalam sambil melempar pertanyaan padaku.
“ Insyaallah jadi minggu depan ustadz, ni sedang persiapan, beresin urusan di semarang dulu, sebenarnya sore ini saya mau sekalian pamitan, oh ya untuk surat transfer ngaji gimana ustadz?”
“ Udah saya urus, ni silahkan dibawa, kalau sudah nyampe di Bandung segera diurus saja, jangan terlalu lama terputus aktivitas holaqohmu nanti” kata ustadz Fahmi sambil menyerhakan amplop berisi surat yang tersegel rapat.
“ Baik ustadz” jawabku singkat.
“ Lha rencana ente lulus kapan ?” ustadz fahmi kembali bertanya padaku.
“Targetnya sih Juli depan dah Wisuda Tadz, mohon doanya aja moga dimudahkan jalanya dan diberikan kelancaran rizki selama saya bekerja nanti”Kataku
“Amiin! Ngomong-ngomong, ente kan dah hamper kelar kuliahnya, maisyah atau penghasilan juga dah ada pastinya, gimana dengan tawaran ane kemarin? Kapan ente nikahnya, dulu ente katanya masih nunggu saat yang tepat, sekarang  ente mau nunggu apa lagi ?
Aku terdiam mendengar pernyataan ustadz Fahmi, sebagai seorang guru ngaji yang baik beliau senantiasa memikirkan masa depan para murid-murid ngajinya. Aku teringat  dialog dengan beliau tiga bulan yang lalu, saat itu aku dipanggil menghadap beliau, katanya ada sesuatu hal yang mau dibicarakan, tak disangka ternyata beliau memanggilku untuk menginterogasiku seputar kesiapanku untuk menikah, saat itu aku yang masih disibukkan dengan pemilihan raya universitas dan menyelesaikan riset belum begitu serius menyiapkan akan diinterogasi semacam ini. Pada ujungnya ustadz Fahmi menceritakan bahwa ia dititipi oleh kakaknya yang ada di Jakarta untuk mencarikan jodoh buat putrinya alias keponakan ustadz Fahmi, dan beliau menawarkan keponakannya padaku, aku langsung kaget, “kenapa saya Ustadz?” tanyaku saat itu, beliau hanya menjawab singkat “Sepertinya dia cocok untuk ente”. Saat itu aku beralasan belum siap, masih menunggu saat yang tepat, minimal sampai punya penghasilan sendiri yang mencukupi. Mendengar jawabanku itu, tentu saja serangkain taujih disampaikan ustadz fahmi, aku tetap belum bergeming dan meminta waktu untuk berpikir,

Rabu, 21 September 2011

Serial Andromeda 1: Jika Memang Cinta Katakan Saja

Hari sabtu pagi ini terasa begitu berbeda bagiku, ruang utama seminar GSG kali ini seolah-olah menjadi panggung pengadilan untukku, suara riuh mahasiswa memenuhi segenap penjuru ruanagan, sesekali sorak-sorai yel-yel fakultas dan tepuk tangan membahana ketika pertemuan akhir tahun ini dibuka oleh MC, beginilah suasana kongres mahasiswa yang dihadiri oleh seluruh lembaga mahasiswa mulai dari tingkat fakultas hingga unit kegiatan mahasiswa universitas, semua tumpah ruah menjadi satu, membahana dalam ruangan dengan lantai berundak-undak seperti panggung teater ini, smentara Mc masih membawakan acara dengan segala tata tertib yang harus dipatuhi, sambutan birokrasi dan rangkaian urutan acara lainnya, aku masih terduduk disalah satu bagian ruangan disebelah panggung utama. Duduk termenung menatap kosong kedepan, sementara disekitarku panitia kongres tampak sibuk kesana kemari dengan segala kesibukannya masing-masing. Para Menteri kabinet mahasiswa yang kubentuk setahun ini juga tampak memenuhi barisan depan tempat duduk bersama dengan ketua-ketua lembaga mahasiswa yang lain, aku memang sengaja mencari momen sendiri kali ini, sekedar mencari penghayatan sebelum aku benar-benar menuntaskan tugasku di lembaga eksekutif mahasiswa ini, masih teringat jelas pemilihan raya universitas yang berlangsung dua minggu lalu,seperti menjadi gong penutup tugas-tugasku yang akan disidangkan pagi ini, “akhirnya sebentar lagi selesai juga” ujarku pelan.

Sabtu, 17 September 2011

Kawan ajarkanlah aku arti ikhlas

Pagi ini aku berjalan dengan langkah pasti menuju masjid kampus,memang disana setiap akhir pekan selalu diadakan kajian di pagi hari. Hari ini aku berharap untuk bisa bertemu dengan salah satu teman akrabku yang baru saja pulang kampung untuk menyelesaikan urusanya dengan orang tuanya. Sudah terhitung cukup lama untuk ukuran mahasiswa dia meninggalkan kami yang tengah padat-padatnya aktivitas di kampus.
Akupun memasuki pelataran masjid kampus dan kulihat disana sudah banyak orang yang menghadiri majelis ilmu ini, aku kemudian memasuki masjid dan bergabung dengan kawan-kawanku yang lain, namun belum kulihat temanku yang kunanti tadi, “kemana dia ya? kok belum ada disini ?” gumamku dalam hati, untuk menuntaskan rasa penaranku aku mencoba bertanya pada teman yang ada disebelahku yang merupakanku adik tingkat di fakultasku, ” Dik ,Lihat Mas Fatih dah datang kesini ? tanyaku
” beliau ada disebelah sana mas, ” katanya sambil menunjuk ke salah satu pojok bagian masjid.
“oh makasih ya dik” balasku
Aku kemudian sejenak meninggalkan tempat dudukku untuk menemui fatih yang tengah duduk disalah satu bagian masjid , kulihat wajahnya agak murung, ada apa dengan dia pikirku.
” assalamu’alaikum !” aku mengucapkan salam padanya.

Connect Us

Selamat bergabung

Side Ads

Footer Ads

Text Widget

Flexible Home Layout

Tabs

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *

views

Follow Us